ESENSI PEMBINAAN AKHLAK DALAM PROFESI TARUNA KELAUTAN

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

M. Udrus Uli

Abstract

ISLAM hadir di pentas sejarah sebagai agama rahmah,[1] ber­in­tikan tiga pilar utama:aqîdah (iman), syarî’ah (‘ilmu), dan akhlâq (‘amal).[2] Kesuluruhan nilai-nilai Islam, baik dalam bentuk akidah ataupun syariah,hanya dapat terpantul indah di atas kanvas dunia, melalui simpul-simpul akhlak, yaitu keterpujian perilaku dan amal shaleh.[3]Akhlak seseorang,dalam perspektif Islam, akan menentukan kadar keda-laman iman dan keluasan ilmu orang tersebut.Penilaian kuat atau lemah iman seseorang, luas atau sempitnya ilmu manusia, hanya dapat dinilai dalam “perilaku” (akhlak), bukan menguak isi hati atau membongkar kontruksi otak manusia.[4]Pada


 


[1] Qs. Al-Inbiya’ [21]: 107. Ayat ini selengkapnya berbunyi, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan (untuk) menjadi rahmat bagi semesta alam.”


[2] Ibnu Taymiyyah,Al-‘Aqîdah wa al-Syarî’ah, (Beirut: Musthafa al-Halabiy, 1957), h. 24


[3]Pernyataan ini disimpulkan dari Qs. Al-Baqarah [2]: 177. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, serta memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, dan orang-orang yang mengalami penderitaan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Noktah-noktah yang tertuang dalam ayat ini, merupakan simpul-simpul ketinggian dan kemuliaan akhlak manusia, baik kepada Allah, kepada sesama makhluk, dan kepada sesama umat manusia.


[4] Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa, Nabi saw pernah berkata, “Kami hanya bertugas menghukum hal-hal yang bersifat dzahir (perilaku manusia), dan hal-hal yang bersifat batin (kedalaman isi hati dan pikiran manusia) adalah wewenang Allah swt untuk menilainya.”

##plugins.themes.academic_pro.article.details##